Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
For
You

Perjalanan Oblivion, Dari Tim Underdog hingga Juara Dunia ALGS Year 5

oblivion.jpg
Oblivion (polygon.com)
Intinya sih...
  • Oblivion, tim asal Kanada tanpa organisasi, menjadi juara dunia ALGS Year 5 Championship di Jepang.
  • Mereka melewati jalur tersulit Last Chance Qualifier dan tampil tanpa dukungan finansial organisasi besar.
  • Roster Oblivion terbentuk hanya beberapa bulan sebelum Championship dan dinobatkan sebagai MVP ALGS Year 5.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Turnamen Apex Legends Global Series (ALGS) Year 5 Championship di Sapporo, Jepang, menghadirkan salah satu kisah paling mengejutkan dalam sejarah esports Apex Legends.

Di tengah dominasi tim-tim besar dengan dukungan organisasi raksasa, Oblivion, tim asal Kanada yang berstatus tanpa organisasi—berhasil keluar sebagai juara dunia.

Sebuah kisah underdog yang berakhir manis di panggung terbesar kompetisi Apex Legends.

Oblivion datang ke Sapporo tanpa status unggulan. Mereka bahkan harus melewati jalur tersulit, yakni Last Chance Qualifier (LCQ), untuk bisa mengamankan tiket ke panggung utama.

Jalur ini mempertemukan puluhan tim yang gagal lolos langsung, dengan hanya segelintir yang berhak melaju ke Championship.

Minim waktu persiapan dan tanpa dukungan finansial organisasi besar, peluang Oblivion sejak awal dianggap tipis.

oblivion 3.jpg
Oblivion (polygon.com)

Roster Oblivion sendiri baru terbentuk pada September 2025, hanya beberapa bulan sebelum Championship digelar.

Tim ini diperkuat oleh tiga pemain berpengalaman: Miguel Quiles (Blinkzr), Bowen Fuller (Monsoon), dan Brandon Groombridge (FunFPS).

Meski masing-masing memiliki rekam jejak panjang di skena kompetitif, mereka belum pernah benar-benar merasakan gelar juara dunia.

Blinkzr menjadi sorotan utama sepanjang turnamen. Ia tampil konsisten dan agresif, hingga akhirnya dinobatkan sebagai MVP ALGS Year 5.

Pencapaian ini terasa kontras dengan hasilnya di Year 4, di mana ia hanya finis di papan bawah.

Monsoon, sebagai veteran Amerika Utara, berperan besar menjaga ketenangan dan pengambilan keputusan tim di momen-momen krusial.

Sementara FunFPS, yang telah lama mengejar gelar juara dunia, akhirnya menuntaskan penantian panjangnya bersama Oblivion.

oblivion 2.png
Oblivion (polygon.com)

Perjalanan Oblivion menuju final juga tidak mulus. Di fase awal Championship, mereka sempat terlempar ke lower bracket, fase yang kerap menjadi akhir perjalanan banyak tim.

Namun, mental baja dan konsistensi permainan membawa mereka bangkit dan mengamankan satu tempat di grand final.

Babak final yang menggunakan format Match Point menjadi panggung pembuktian. Dari 20 tim, hanya 10 yang berhasil mencapai status match point eligible, termasuk tim favorit juara Team Falcons yang dipimpin Philip Dosen alias ImperialHal.

Falcons tampil dominan sejak awal, namun tekanan justru menjadi bumerang di laga penentuan.

Game kesembilan di map Storm Point menjadi klimaks. Oblivion tampil berani dengan pendekatan agresif, mengamankan 13 kill krusial dan menutup pertandingan dengan kemenangan.

Di hadapan hampir 15 ribu penonton di Sapporo Dome, mereka resmi dinobatkan sebagai juara dunia ALGS Year 5.

Selain membawa pulang hadiah utama sebesar 600 ribu dolar AS tanpa potongan organisasi, kemenangan ini juga menorehkan sejarah.

Oblivion menjadi tim pertama yang menjuarai ALGS lewat jalur LCQ, sekaligus simbol bahwa tim orgless masih mampu bersaing—bahkan mengalahkan para raksasa.

Share
Topics
Editorial Team
Doni Jaelani
EditorDoni Jaelani
Follow Us

Latest in Gaming

See More

Perjalanan Oblivion, Dari Tim Underdog hingga Juara Dunia ALGS Year 5

22 Jan 2026, 15:00 WIBGaming