10 Game dengan Ending Terburuk yang Bikin Pemain Kecewa

- Alan Wake: Ending pahit dengan pengorbanan diri Alan yang meninggalkan rasa tidak adil bagi pemain.
- Ghosts ’N Goblins: Ending mengungkap semua hanya mimpi, membuat pemain merasa dikerjai dan frustrasi.
- Enslaved: Odyssey to the West: Twist ending terasa basi dan terlalu mirip dengan cerita populer sebelumnya.
Dalam sebuah game, ending punya peran krusial. Setelah puluhan jam berjuang, pemain berharap mendapat penutup yang sepadan dengan usaha mereka. Sayangnya, tidak semua game berhasil memberikan kepuasan di momen terakhir.
Ada yang terlalu menggantung, terlalu dipaksakan, atau bahkan terasa seperti mengkhianati cerita yang sudah dibangun sejak awal.
Artikel ini akan membahas 10 game dengan ending terburuk yang membuat banyak pemain kecewa, frustrasi, dan merasa semua perjuangan mereka sia-sia.
1. Alan Wake

Alan Wake dikenal sebagai game horor psikologis dengan atmosfer mencekam dan cerita yang kuat. Kamu mengikuti perjalanan Alan yang berusaha menyelamatkan istrinya, Alice, dari kekuatan misterius bernama Dark Presence. Sepanjang permainan, misteri disusun rapi dan membuat pemain penasaran. Namun, semua itu berujung pada ending yang pahit.
Setelah berhasil mengalahkan kegelapan, Alan justru mengorbankan dirinya dan terjebak selamanya di dasar danau demi menyelamatkan Alice.
Sang istri kembali ke dunia nyata tanpa tahu bahwa Alan masih hidup. Ending ini terasa terlalu muram dan meninggalkan rasa tidak adil bagi pemain yang berharap setidaknya ada secercah harapan bagi sang protagonis.
2. Ghosts ’N Goblins

Game klasik ini terkenal akan tingkat kesulitannya yang kejam. Pemain bertarung mati-matian demi menyelamatkan Princess Prin Prin dari tangan iblis. Setelah susah payah mengalahkan bos terakhir, pemain mengira semuanya selesai. Ternyata tidak.
Ending mengungkap bahwa semua yang terjadi hanyalah mimpi. Pemain dipaksa mengulang seluruh game dari awal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.
Bagi anak-anak era NES, ini benar-benar mimpi buruk. Alih-alih puas, pemain justru merasa dikerjai dan frustrasi setelah perjuangan panjang mereka dianggap setengah jalan.
3. Enslaved: Odyssey to the West

Secara gameplay, Enslaved: Odyssey to the West tergolong solid dengan dunia post-apocalyptic yang menarik. Namun, ending-nya menuai kritik karena terasa tidak orisinal. Terungkap bahwa musuh sebenarnya “menyelamatkan” manusia dengan menghubungkan mereka ke dunia virtual agar hidup lebih baik.
Konsep ini terlalu mirip dengan The Matrix, sehingga twist yang seharusnya mengejutkan justru terasa basi. Alih-alih meninggalkan kesan mendalam, ending ini terasa seperti tiruan dari cerita yang sudah jauh lebih dulu populer dan dieksekusi dengan lebih baik.
4. Far Cry 2

Far Cry 2 menawarkan dunia konflik Afrika yang kelam dan realistis. Namun, ending-nya sama suramnya. Pemain tidak pernah benar-benar mengalahkan The Jackal. Sebaliknya, kamu dipaksa memilih cara mati, entah dengan menghentikan militer atau menyelamatkan pengungsi sebelum mengakhiri hidup sendiri.
Apa pun pilihanmu, hasilnya sama: karakter utama meninggal. Tidak ada kemenangan, tidak ada kelegaan. Banyak pemain merasa ending ini terlalu nihilistik dan menghilangkan rasa pencapaian setelah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan.
5. Tom Clancy’s Rainbow Six: Vegas 2

Sebagai game taktis, Rainbow Six: Vegas 2 tampil solid dari segi gameplay dan AI musuh. Namun, ending-nya terasa antiklimaks. Setelah mengalahkan Gabriel Nowak, cerita berhenti begitu saja.
Tidak ada penjelasan tentang dalang di balik semua kekacauan. Layar hanya menampilkan pesan bahwa semuanya belum berakhir. Cliffhanger ini terasa dipaksakan dan lebih seperti promosi sekuel daripada penutup cerita yang memuaskan.
6. Fallout 3

Fallout 3 sukses membangun dunia Wasteland yang luas dan penuh pilihan. Ironisnya, semua kebebasan itu runtuh di ending. Apa pun keputusan yang kamu ambil, hasil akhirnya tetap sama: ledakan besar dan cerita selesai.
Lebih parah lagi, pemain tidak bisa melanjutkan eksplorasi atau menyelesaikan side quest yang tersisa. Bagi game RPG yang menjual kebebasan, ending ini terasa seperti pengkhianatan terhadap konsep dasarnya sendiri.
7. Crysis

Setelah bertarung habis-habisan melawan alien dengan teknologi futuristik, pemain berharap mendapatkan penutup epik.
Sayangnya, Crysis justru berakhir dengan informasi bahwa masih ada alien lain yang datang.
Tidak ada resolusi yang jelas, tidak ada rasa kemenangan. Cerita berhenti begitu saja, seolah-olah permainan hanya dipotong untuk sekuel. Ini membuat ending terasa malas dan tidak memuaskan.
8. Borderlands

Sepanjang Borderlands, pemain dibakar rasa penasaran tentang Vault legendaris. Semua misi dan konflik mengarah ke sana. Namun, saat Vault akhirnya ditemukan, isinya justru nihil.
Setelah mengalahkan monster penjaga, Vault ditutup kembali selama 200 tahun tanpa penjelasan apa pun. Seluruh pencarian terasa sia-sia, seolah Vault hanya alat cerita tanpa makna nyata.
9. Batman: Arkham Asylum

Batman: Arkham Asylum hampir sempurna hingga detik terakhir. Namun, keputusan menjadikan Joker sebagai monster hijau raksasa akibat Titan Formula terasa aneh dan tidak masuk akal.
Alih-alih duel psikologis cerdas, pemain disuguhi pertarungan bos generik. Ending ini terasa tidak sejalan dengan tone cerita dan membuat banyak penggemar Batman mengernyitkan dahi.
10. Mass Effect 3

Sepanjang trilogi Mass Effect, pemain diyakinkan bahwa setiap pilihan punya dampak. Namun di Mass Effect 3, semua itu runtuh. Ending hanya menyajikan tiga pilihan warna berbeda dengan hasil yang nyaris sama.
Keputusan besar dari game sebelumnya terasa tidak relevan. Hal ini membuat banyak pemain merasa dibohongi dan menjadikan ending Mass Effect 3 salah satu yang paling kontroversial sepanjang sejarah game.
Ending adalah titik penentu dalam pengalaman bermain game. Sepanjang apa pun perjalanan dan sekuat apa pun gameplay, penutup yang mengecewakan bisa meruntuhkan segalanya.
Sepuluh game di atas membuktikan bahwa ending yang buruk mampu meninggalkan rasa pahit bagi pemain, bahkan bertahun-tahun setelah game tersebut dirilis. Sebuah pelajaran penting bagi developer: perjalanan hebat butuh akhir yang sepadan.
FAQ Singkat Game dengan Ending Terburuk
| 1. Apakah ending buruk membuat game jadi jelek? | Tidak selalu, tapi bisa merusak kesan keseluruhan. |
| 2. Kenapa banyak game punya ending menggantung? | Biasanya untuk membuka peluang sekuel. |
| 3. Ending sedih selalu buruk? | Tidak, jika dieksekusi dengan tepat dan masuk akal. |
| 4. Apakah ending Mass Effect 3 pernah diperbaiki? | Ada Extended Cut, tapi tetap menuai pro dan kontra. |
| 5. Ending mana yang paling bikin marah pemain? | Mass Effect 3 sering disebut sebagai yang paling kontroversial. |

















