Menolak Menyerah: Kemunculan Para Coach Veteran Bersama Tim MLBB Emerging

- Flysolo, Vren, dan Tezet kembali melatih tim dari regional emerging di M7 World Championship Wild Card.
- Tezet fokus mengendalikan emosi pemain Boostgate Esports di Turki untuk membuat tim lebih profesional.
- Vren menghadapi awal sulit saat melatih Guangzhou Gaming di Tiongkok, namun berhasil membawa tim meraih runner-up di MLBB China Master 2025.
Ada yang menarik pada babak Wild Card M7 World Championship kali ini. Setidaknya, ada tiga tim yang diperkuat oleh coach yang sudah tidak asing di kancah esports MLBB.
Coach yang namanya sudah jarang terdengar kembali, yaitu Flysolo, Vren, hingga Tezet, mereka turun gunung dan membagikan insight mereka kepada para pemain asuhannya.
Menariknya, ketiga coach ini sama-sama membela tim yang berasal dari regional emerging, yang mulai bangkit dengan level kompetitif yang tak boleh dipandang sebelah mata. Dan menariknya lagi, ketiga coach ini pernah melatih tim Indonesia!
Pengetahuan mereka mampu membawa dampak positif di region tempatnya bernaung, dan memberikan harapan bahwa esports MLBB bisa berkembang di region baru.
Bagaimana pengalaman mereka melatih tim yang punya stature lebih kecil dari negara asal mereka? Simak wawancaranya bersama GGWP di bawah ini.
Tezet bantu kendalikan emosi pemain Boostgate Esports

Tezet dikenal di Indonesia sebagai bagian dari coaching staff AURA Fire yang memberikan gelar juara 3 di MPL ID S9 dan S10. Mundur di tahun 2023, Tezet fokus pada pengembangan komunitas dengan menjadi coach di Samsung Galaxy Gaming Academy.
Pada tahun 2025, Tezet kembali terjun ke dunia MLBB profesional dengan melatih Boostgate Esports. Di tangannya, Boostgate meraih posisi keempat MTC Turkiye S5, dan runner-up MTC Turkiye S6.
Hanya butuh dua season bagi coach Tezet untuk membawa Boostgate menjadi tim yang kompetitif, dan bersaing head to head dengan Aurora Turkiye sebagai salah satu tim terkuat di Turki. Apa yang Tezet ubah di dalam tim agar bisa mencapai hasil ini?
“Mereka (pemain Boostgate) udah hebat-hebat. Mereka punya potensi besar, tapi masalah utamanya itu, emosinya nggak bisa dikontrol. Mereka nggak tahu gimana caranya jadi profesional,” kata Tezet.
Ia membandingkan pemain Turki dengan pemain Indonesia, yang sejak awal memang sudah digembleng untuk bermain secara profesional baik dari sisi mekanik hingga mental.
“Mereka gampang marah, nyalahin teman. Tapi setelah kita bareng beberapa bulan, gua ajarin pelan-pelan. ‘Tim itu gini, mainnya santai aja. Menang kalah di scrim santai aja,’” paparnya.
Di sinilah peran Tezet sebagai coach. Ia tidak hanya memberikan pengetahuan seputar taktik, drafting, dan mekanik penting, tapi juga mengarahkan emosi dan mental pemain ke arah yang lebih ideal.
“Semua tim, semua region pasti nggak mau kalah. Tapi karena pada basic-nya mereka emosional banget, sangat menggebu-gebu. Kalau kalah mereka emosian banget, sedih banget, itu tugas gua buat ngontrol (mereka),” ujar Tezet.
Pengalaman Vren mendorong perkembangan MLBB Tiongkok

Vren telah merasakan berbagai suka-duka melatih tim MLBB di berbagai negara. Ia sudah sukses di Filipina, terkenal di Indonesia, dan bahkan pernah “nyasar” sampai ke Rusia dan Vietnam.
Bigetron, RRQ, AP.Bren, dan Team Spirit bukan nama-nama kalengan. Namun di tangannya, Vren bisa menciptakan impresi kuat.
Kali ini, kiprahnya membawa Vren tiba di Tiongkok bersama Guangzhou Gaming. Sebelumnya bernama RLG, ini adalah tim yang muda, dari region yang juga masih sangat muda.
Vren memulai musim dengan cukup sulit; gagal lolos playoff MLBB Super Cup Invitational 2025, dan kalah di lower bracket kualifikasi Tiongkok untuk MSC 2025. Peruntungannya berubah setelah meraih gelar runner-up di MLBB China Master 2025.
“Aku melakukan ini untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman. Memulai dari awal selalu sulit, memulai dari nol. Termasuk salah satunya tim ini, perjalanannya sulit tapi hasilnya memuaskan,” kata Vren.
Vren menyebut tugas sebagai coach GZG membutuhkan dedikasi tinggi. Namun pada akhirnya, pengembangan tim tidak hanya mengandalkan sosoknya sendiri.
“Tugas ini tak hanya ada pada diriku sendiri, tapi seluruh manajemen tim. Kami harus mencari pemain-pemain bagus di Tiongkok, untuk menjalankan rencana kami: menaruh Tiongkok dalam peta persaingan MLBB,” paparnya.
Ia yakin, dengan dukungan penuh dari coaching staff dan manajemen, GZG bisa mengonversi potensi pemain menjadi hasil yang memuaskan.
“Aku hanya membagikan pengalamanku kepada tim. Tentu mereka punya skill, dan mereka pasti akan menang,” tegas Vren.
Flysolo sudah akrab dengan iklim Rusia

Flysolo, coach Filipina yang sempat hadir di Indonesia bersama Pendekar Esports, menghabiskan tahun 2025 bersama dengan tim Virtus Pro.
Sebelumnya ia punya pengalaman bersama Deus Vult, tim MLBB lain dari regional EECA. Bersama tim cikal bakal Team Spirit ini, ia cukup sukses dengan menjuarai MCC Season 2, dan posisi 4 di M5 World Championship.
Waktu sesaatnya bersama DeVu ternyata menjadi modal berharga saat Flysolo menjadi coach untuk Virtus Pro. Back to back runner-up di MCC S5 dan S6, plus lolos ke group stage MSC 2025 dari fase wild card membuat sosok Flysolo sangat pentong.
Sebelumnya di MSC 2025, Virtus Pro bermain memukai dengan bantuan pemain substitute Andoryuuu dari Omega Esports. Ia menggantikan Zaur Egoist yang pada saat itu masih berada di bawah umur dan tak bisa berkompetisi.
Kini setelah Zaur cukup umur, rupanya permainan tim tidak berubah. Virtus Pro menjadi poros kedua kekuatan EECA yang siap tempur di level internasional.
Flysolo cukup yakin dengan kemampuan pemainnya. Potensi mereka, namun, masih harus disokong oleh pengalaman.
“Kita tahu Filipina adalah regional yang kompetitif, sementara EECA baru saja memulai. Mereka membutuhkan coach dan pemain (berpengalaman),” kata Flysolo.
“Aku yakin jika mereka tampil baik, kami bisa mendapatkan gelar juaranya,” sambungnya.
3 pelatih berbakat, 2 slot tersisa

Baik Vren, Tezet, dan Flysolo merupakan pelatih dengan bertahun-tahun pengalaman, Insight mereka mampu menjadikan tim-tim luar naik ke level yang lebih kompetitif.
Lihat saja bagaimana permainan GZG, Virtus Pro, dan Boostgate menghadapi lawan-lawan di grup mereka masing-masing.
GZG dan Virtus Pro sudah memastikan diri lolos ke crossover match, sementara Boostgate butuh setidaknya satu kemenangan lagi, dan atau keajaiban statistik di klasemen sementara.
Dan bahkan jika Boostgate pun lolos ke crossover match, hanya akan ada dua slot tim yang terbuka untuk maju ke Swiss Stage.
Babak Wild Card ini tak hanya menjadi pembuktian dari bangkitnya region-region yang masih emerging, namun juga ajang adu taktik bagi ketiga pelatih veteran ini.
Saat regional besar tak lagi membutuhkan bantuan mereka, Vren, Tezet, dan Flysolo hadir di region berkembang untuk menaikkan derajat mereka. Mereka belum mau menyerah. Mereka menolak menyerah demi menciptakan ekosistem esports MLBB yang lebih kompetitif.
FAQ

1. Siapa saja coach veteran yang kembali melatih tim di M7 World Championship Wild Card?
Flysolo, Vren, dan Tezet, masing-masing membela tim dari regional emerging.
2. Apa peran utama Tezet dalam mengembangkan Boostgate Esports di Turki?
Ia fokus mengendalikan emosi pemain, selain memberikan taktik dan mekanik, sehingga tim lebih profesional.
3. Bagaimana pengalaman Vren saat melatih Guangzhou Gaming di Tiongkok?
Ia menghadapi awal yang sulit, namun berhasil membawa tim meraih runner-up di MLBB China Master 2025, sekaligus mendorong perkembangan MLBB di Tiongkok.
4. Mengapa Flysolo dianggap penting bagi Virtus Pro di regional EECA?
Karena pengalamannya di Filipina dan DeVu, ia mampu membawa Virtus Pro konsisten di level internasional, termasuk lolos ke MSC 2025.
5. Apa makna kehadiran tiga coach veteran ini bagi region emerging MLBB?
Mereka menjadi katalis untuk meningkatkan level kompetitif tim-tim emerging, sekaligus membuktikan bahwa region baru bisa bersaing dengan region besar.


















