Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
Install

Free Fire 2027 Tak Lagi Punya Kompetisi SEA, Ini Respons Coach Bigetron, RRQ, dan ONIC

5 min read
Free Fire 2027 Tak Lagi Punya Kompetisi SEA, Ini Respons Coach Bigetron, RRQ, dan ONIC
Free Fire (Berbagai Sumber)
  • Free Fire 2027 menghapus kompetisi SEA dan menjadikan FFWS Indonesia sebagai jalur utama, dengan dua tiket turnamen global diperebutkan melalui liga domestik.

  • Coach Bigetron by Vitality, ChrisJo, menilai fokus tim tetap pada FFWS Indonesia, tetapi persaingan berpotensi makin sulit karena hadirnya tim, pemain, dan pelatih baru.

  • ADY RRQ Kazu kecewa atas perubahan setelah perjuangan di SEA, sementara AFM ONIC melihat peluang bagi komunitas, pemain, dan pelatih untuk kembali aktif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan format kompetisi Free Fire pada 2027 memunculkan beragam respons dari pelatih tim esports Indonesia. Keputusan untuk menghapus turnamen tingkat Asia Tenggara (SEA) dan mengembalikan persaingan ke liga masing-masing negara dinilai membawa peluang sekaligus tantangan baru bagi ekosistem kompetitif Free Fire.

Dalam format mendatang, FFWS Indonesia akan menjadi panggung tertinggi bagi tim-tim Tanah Air. Mereka harus bersaing di liga domestik untuk memperebutkan dua tiket menuju turnamen global. Artinya, kesempatan tampil di level internasional akan ditentukan melalui persaingan yang lebih terpusat di masing-masing wilayah.

Kebijakan ini mendapat tanggapan dari tiga pelatih tim Indonesia yang sebelumnya berkompetisi di level SEA, yakni ChrisJo dari Bigetron by Vitality, ADY dari RRQ Kazu, dan AFM dari ONIC.

Ketiganya memiliki sudut pandang berbeda, mulai dari tantangan menghadapi persaingan domestik, kekecewaan atas perubahan regulasi, hingga dampaknya terhadap perkembangan komunitas Free Fire.

  1. ChrisJo Sebut Persaingan FFWS Indonesia Bakal Lebih Menantang

    Bagi ChrisJo, dihapusnya kompetisi SEA tidak mengubah fokus Bigetron by Vitality. FFWS Indonesia tetap menjadi prioritas utama karena turnamen tersebut merupakan kompetisi dengan kasta tertinggi yang disediakan Garena untuk tim-tim di Indonesia.

    Meski demikian, ia menilai kembalinya persaingan ke liga domestik bukan berarti perjalanan tim akan menjadi lebih mudah. Justru, munculnya tim-tim baru dan kembalinya sejumlah sosok lama ke skena kompetitif bisa membuat persaingan semakin sulit diprediksi.

    "Nggak ada SEA lagi, cuma tetap FFWS Indonesia itu tetap jadi menu utamanya kita, mau nggak mau. Karena cuma itu doang turnamen yang kastanya tinggi, major, dan juga yang disediakan oleh Garena," ujar ChrisJo.

    Ia menambahkan bahwa Bigetron harus kembali menghadapi tim-tim Indonesia, termasuk peserta baru yang mungkin berasal dari komunitas.

    Menurutnya, tim-tim tersebut berpotensi memiliki bekal analisis terhadap gameplay lawan setelah mengikuti perkembangan kompetisi sebelumnya.

    "Cuma agak lebih challenging. Karena ada tim-tim Indonesia yang baru, mungkin dari community, mungkin ada coach-coach lama yang berdatangan kembali. Mereka mungkin sudah analisa kita punya gameplay jauh lebih lama. Nah, kalau kita masuk ke situ, ya mungkin kembali lagi, itu akan challenging," lanjutnya.

  2. ADY Akui Ada Kekecewaan Setelah Perjuangan di FFWS SEA 2026 Fall

    Sementara itu, Coach RRQ Kazu, ADY, mengaku kecewa terhadap perubahan format tersebut. Pasalnya, sejumlah tim Indonesia telah berjuang keras sepanjang FFWS SEA 2026 Fall demi mempertahankan tempat mereka di kompetisi Asia Tenggara.

    Menurut ADY, para peserta sudah mengerahkan kemampuan terbaik untuk menghindari degradasi dan memastikan bisa kembali bersaing di level SEA.

    Namun, setelah turnamen berakhir, mereka justru mendapat informasi bahwa kompetisi akan dikembalikan ke liga domestik masing-masing negara.

    "Secara personal agak sedikit ada kekecewaan lah. Karena di season Fall, beberapa tim dari Indonesia itu jujur, mati-matian berjuang se-all in mungkin untuk gimana caranya kita nggak degradasi, gimana caranya kita stay di SEA," ungkap ADY.

    Ia juga menyebut keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan bagi tim-tim yang telah berusaha keras mempertahankan posisi di kompetisi regional. Terlebih, pada akhirnya seluruh tim harus kembali memperebutkan dua tiket menuju turnamen global melalui liga masing-masing.

    Meski begitu, ADY memahami bahwa regulasi tersebut akan menjadi bagian dari kompetisi musim berikutnya. Karena itu, RRQ Kazu memilih untuk beradaptasi dan menjadikan perubahan ini sebagai motivasi untuk meningkatkan performa.

    "Jadi itu ada salah satu pertanyaan besar dari tim yang memang sudah try hard di season kemarin. Kok bisa seperti ini, kenapa? Dan ya itulah regulasi season ke depan. Kita cuma bisa improve aja lah, improve di season depan," tambahnya.

    Era Baru untuk FFWS Asia Tenggara.jpg
    Free Fire (Sumber: Garena Free Fire)
  3. AFM Melihat Dampak Positif dan Negatif bagi Ekosistem Free Fire

    Berbeda dari dua pelatih lainnya, Coach ONIC, AFM, melihat perubahan format dari dua sudut pandang, yaitu sebagai pelatih tim yang memiliki slot SEA dan sebagai bagian dari komunitas Free Fire.

    Dari sisi ONIC, AFM mengaku sedih dan kurang setuju dengan keputusan tersebut. Menurutnya, kompetisi SEA memberikan keuntungan tersendiri bagi tim yang berhasil mencapai level tersebut.

    Selain itu, persaingan di liga domestik berpotensi menghadirkan situasi yang tidak selalu ideal.

    Di sisi lain, AFM juga melihat sisi positif dari kembalinya liga domestik jika dilihat dari perkembangan komunitas.

    Ia menilai perubahan ini bisa membuka kesempatan bagi pemain dan pelatih yang sebelumnya mulai meninggalkan skena kompetitif untuk kembali bergabung dengan organisasi esports.

    "Sebagai community, gue suka lah kalau liganya Indonesia lagi. Kenapa? Karena gue lihat teman-teman gue di-hire lagi sama tim esports. Beberapa pro player yang tadinya sudah mau berhenti, sekarang masuk lagi, dipanggil-panggilin lagi. Nah, ini bagus buat ekosistem dari Free Fire," jelas AFM.

    Baginya, keberlangsungan ekosistem Free Fire tidak hanya bergantung pada satu organisasi atau pemain. Ia berharap komunitas tetap aktif dan industri esports terus berjalan, meskipun format kompetisinya berubah.

    "Kan nggak selamanya juga gue di ONIC. Yang paling penting kan vibes dari FF tetap ada, ekosistem esports tetap jalan. Jadi komunitas jalan, esports-nya jalan," tutupnya.

  4. Perubahan Format Jadi Tantangan Baru pada 2027

    Tanggapan ChrisJo, ADY, dan AFM menunjukkan bahwa penghapusan kompetisi SEA membawa konsekuensi berbeda bagi setiap tim. Ada tantangan untuk kembali beradaptasi dengan persaingan domestik, ada kekecewaan atas perubahan regulasi, tetapi ada pula peluang untuk menghidupkan kembali komunitas dan talenta lokal.

    Pada akhirnya, format baru Free Fire 2027 akan menjadi ujian bagi seluruh tim Indonesia. FFWS Indonesia bukan hanya menjadi ajang perebutan gelar juara nasional, melainkan juga jalur utama untuk mendapatkan kesempatan tampil di panggung global. Persaingan dipastikan semakin penting karena hanya dua tim terbaik yang berhak membawa nama Indonesia ke kompetisi internasional.

    Top up game favoritmu sekarang lebih mudah dan hemat lewat GGWP Top Up. Mulai dari Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, sampai game-game lain favoritmu. Buktiin murahnya top up di GGWP Top Up.

    FAQ

    Apa perubahan format kompetisi Free Fire pada 2027?

    Mulai 2027, kompetisi Free Fire tidak lagi menggunakan turnamen tingkat Asia Tenggara (SEA). Persaingan akan dikembalikan ke liga masing-masing negara, termasuk FFWS Indonesia sebagai kasta tertinggi bagi tim-tim Tanah Air.

    Berapa tim Indonesia yang akan lolos ke turnamen global melalui FFWS Indonesia 2027?

    Dua tim terbaik dari liga Indonesia akan mendapatkan tiket untuk bertanding di turnamen tingkat global.

    Bagaimana tanggapan Coach Bigetron by Vitality, ChrisJo, terhadap format Free Fire 2027?

    ChrisJo menilai FFWS Indonesia tetap menjadi prioritas utama Bigetron by Vitality. Namun, ia memperkirakan persaingan akan semakin menantang karena munculnya tim-tim baru dan kembalinya sejumlah pelatih lama ke skena kompetitif.

    Mengapa Coach RRQ Kazu, ADY, kecewa dengan penghapusan kompetisi SEA?

    ADY merasa kecewa karena sejumlah tim Indonesia sudah berjuang keras di FFWS SEA 2026 Fall untuk menghindari degradasi dan mempertahankan tempat di kompetisi regional. Namun, regulasi kemudian berubah sehingga seluruh tim harus kembali bersaing di liga domestik.

Related Articles

See More