Chrisjo Buka Suara soal Penalti Bigetron by Vitality di FFWS SEA 2026 Fall

Bigetron by Vitality dikenai penalti 18 poin Point Rush dan pemotongan hadiah 5 persen akibat pelanggaran in-game, sehingga kehilangan Headstart Point untuk Grand Finals.
Pelatih Chrisjo mengaku keputusan itu memengaruhi emosi tim karena BTR tidak setuju, tetapi para pemain mengubah kekecewaan menjadi motivasi saat bertanding.
BTR bangkit dalam format Champion Rush, mengamankan Booyah pada game ke-12, dan menjuarai FFWS SEA 2026 Fall setelah hari pertandingan yang panjang serta melelahkan.
Bigetron by Vitality (BTR) berhasil menutup perjalanan FFWS SEA 2026 Fall dengan gelar juara. Namun, perjalanan menuju trofi tersebut tidak berlangsung mudah.
Sebelum tampil di Grand Finals, BTR harus menerima penalti setelah penyelenggara menemukan pelanggaran terkait penggunaan bug atau mekanisme permainan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya usai Point Rush selesai digelar.
Penalti tersebut diberikan setelah penyelenggara melakukan peninjauan terhadap rekaman pertandingan dan bukti terkait dari Point Rush Stage pada 19 September 2026.
Berdasarkan hasil investigasi, Bigetron by Vitality dinyatakan melanggar Section 6.5 mengenai In-Game Violations.
Sebagai konsekuensinya, penyelenggara memberikan sejumlah sanksi kepada BTR. Total perolehan poin mereka pada Point Rush dikurangi 18 poin, sementara hadiah uang yang diterima juga dipotong sebesar 5 persen.
Penyesuaian tersebut membuat posisi Bigetron by Vitality berubah menjadi peringkat ketujuh pada klasemen Point Rush. Perubahan ini juga berdampak langsung terhadap Headstart Point yang menjadi modal setiap tim untuk memasuki Champion Rush di Grand Finals.
BTR akhirnya tidak membawa Headstart Point setelah klasemen diperbarui. Sementara itu, ONIC naik ke peringkat kelima dan mendapatkan tambahan dua Headstart Point, sedangkan Buriram United Esports naik ke posisi keenam dengan tambahan satu Headstart Point.
Table of Content
Penalti Beri Dampak Emosional
Coach Bigetron by Vitality, Chrisjo, mengakui keputusan tersebut memberikan pengaruh secara emosional kepada tim.
Menurutnya, BTR merasa tidak sepakat dengan keputusan penalti karena sebelumnya telah mengumpulkan poin yang cukup untuk mendapatkan modal Headstart Point lebih besar.
“Tentu ada pengaruhnya secara emosional karena kami merasa tidak setuju. Pada Point Rush sebenarnya kami sudah mengumpulkan poin yang cukup besar untuk mendapatkan Headstart Point. Setelah penalti, posisi kami turun dan kami harus memulai Grand Finals tanpa tambahan poin,” ujar Chrisjo.
Meski kecewa, Chrisjo menegaskan bahwa situasi tersebut tidak boleh terus dibawa ke pertandingan. BTR harus mengalihkan emosi tersebut menjadi motivasi untuk tampil maksimal di babak penentuan.
“Kami tidak bisa terus membawa kemarahan itu ke pertandingan. Pada akhirnya, kami tetap harus bermain dengan kondisi yang ada. Perasaan tidak setuju itu tetap ada, tetapi kami harus mengubahnya menjadi energi untuk membuktikan diri di dalam game,” lanjutnya.
BTR Bangkit di Game ke-12
Tekanan tersebut justru tidak menghentikan langkah Bigetron by Vitality. Dengan roster Fellow, Kyongg, Kojaa, C1b3nk, dan Tiuszz, BTR terus berjuang dalam format Champion Rush.
Puncaknya terjadi pada game ke-12. Setelah berhasil mencapai ambang Champion Rush, Bigetron by Vitality mampu mengamankan Booyah yang dibutuhkan untuk mengunci gelar juara FFWS SEA 2026 Fall.
Bagi Chrisjo, kemenangan tersebut menjadi penutup dari hari yang sangat panjang dan penuh tekanan. Ia menggambarkan perjalanan BTR sebagai sebuah roller coaster, terutama setelah persoalan penalti dan laporan terkait dugaan bug.
“Aku sangat bersyukur. Secara emosional rasanya seperti roller coaster. Ada banyak struggle dan kami sempat tersulut emosi karena persoalan bug. Kami juga mengajukan report balik untuk sesuatu yang kami nilai memiliki indikasi bug, tetapi tidak disetujui,” kata Chrisjo.
Kondisi fisik para pemain dan staf juga sudah terkuras setelah menjalani rangkaian pertandingan sejak pagi hingga malam. Namun, seluruh rasa lelah tersebut terbayarkan setelah BTR memastikan diri sebagai juara.
“Harinya panjang sekali. Aku sudah bangun dari pagi karena sempat ibadah dulu di gereja. Setelah itu kami harus standby sampai malam. Badan sudah benar-benar lemas. Punggung sakit sampai ke kepala, pusing, kaki pegal. Namun, semuanya terbayarkan ketika kami menjadi champion,” tutupnya.
Dengan kemenangan tersebut, Bigetron by Vitality tidak hanya membawa pulang trofi FFWS SEA 2026 Fall, tetapi juga membuktikan bahwa penalti dan tekanan yang muncul sebelum babak penentuan tidak menghentikan perjuangan mereka untuk menjadi juara Asia Tenggara.
Top up game favoritmu sekarang lebih mudah dan hemat lewat GGWP Top Up. Mulai dari Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, sampai game-game lain favoritmu. Buktiin murahnya top up di GGWP Top Up.
FAQ
Mengapa Bigetron by Vitality mendapatkan penalti di FFWS SEA 2026 Fall? Bigetron by Vitality mendapatkan penalti setelah penyelenggara menyatakan mereka melanggar Section 6.5 tentang In-Game Violations pada Point Rush Stage. Pelanggaran tersebut berkaitan dengan tindakan memanfaatkan bug atau mekanisme permainan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Apa hukuman yang diberikan kepada Bigetron by Vitality? BTR mendapatkan pengurangan 18 poin dari hasil Point Rush serta pemotongan 5 persen dari total hadiah uang. Penyesuaian tersebut membuat BTR turun ke peringkat ketujuh pada klasemen Point Rush dan memperoleh 8 Headstart Point.
Apakah penalti memengaruhi peluang Bigetron by Vitality menjadi juara? Penalti membuat BTR mendapatkan modal Headstart Point yang lebih rendah untuk Champion Rush. Namun, BTR tetap mampu mencapai kondisi Champion Rush dan mengamankan Booyah pada game ke-12 untuk menjadi juara FFWS SEA 2026 Fall.
Siapa roster Bigetron by Vitality saat menjuarai FFWS SEA 2026 Fall? Bigetron by Vitality diperkuat oleh Fellow, Kyongg, Kojaa, C1b3nk, dan Tiuszz saat memenangkan FFWS SEA 2026 Fall.

















