Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
For
You

Review 'Ready of Not 2: Here I Come, Sekuel yang Oke Tapi Repetitif!

Review 'Ready of Not 2: Here I Come, Sekuel yang Oke Tapi Repetitif!
Ready or Not 2: Here I Come (Dok. IMDB)
Intinya Sih
5W1H
  • Sekuel Ready or Not 2: Here I Come melanjutkan kisah Grace yang kembali diburu dalam permainan mematikan berskala lebih besar, kini bersama adiknya Faith yang menambah dinamika emosional cerita.
  • Film ini menawarkan aksi brutal dan sinematografi rapi, namun terasa repetitif karena masih mengulang formula permainan petak umpet berdarah dari film pertama tanpa inovasi signifikan.
  • Ending film dinilai memuaskan dengan pesan kuat tentang ambisi dan kekuasaan, menjadikannya tontonan tetap menarik meski belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang pendahulunya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setelah sukses dengan film pertamanya, Ready or Not akhirnya kembali lewat sekuel berjudul Ready or Not 2: Here I Come.

Film ini jelas membawa ekspektasi tinggi, apalagi karakter Grace yang diperankan oleh Samara Weaving sudah jadi salah satu final girl ikonik di genre horor modern.

Pertanyaannya, apakah sekuel ini mampu menghadirkan sesuatu yang baru, atau justru hanya mengulang formula lama?

Nah buat yang penasaran seperti apa review-nya, simak selengkapnya ya. Perlu diingat, review ini mengandung banyak spoiler, jadi pastikan kamu sudah siap sebelum melanjutkan membaca.

Table of Content

Sinopsis 'Ready or Not 2: Here I Come' (2026)

Sinopsis 'Ready or Not 2: Here I Come' (2026)

RoN2 4.jpg
Ready or Not 2: Here I Come (Dok. IMDB)

Teror belum selesai buat Grace. Di Ready or Not 2: Here I Come, kisah langsung lanjut setelah kejadian brutal di film pertama. Kali ini, Grace kembali jadi target, tapi skalanya jauh lebih gila, dia diburu oleh empat keluarga pemuja setan yang punya ambisi besar dalam perebutan kekuasaan.

Situasinya makin rumit karena permainan yang harus dijalani bukan sekadar hide and seek berdarah biasa.

Grace dipaksa masuk ke permainan baru dengan taruhan tinggi demi memperebutkan kursi tertinggi di dewan kultus.

Di tengah kekacauan itu, ia justru bekerja sama dengan saudara perempuannya yang sudah lama terpisah, Faith, membuka dinamika baru yang lebih emosional sekaligus penuh konflik.

Dengan konsep yang lebih besar dan intens, sekuel ini jelas bakal mengangkat skala horor sekaligus aksi ke level berikutnya.

Kalau film pertama fokus pada survival brutal, Ready or Not 2: Here I Come siap kasih kombinasi thriller, drama keluarga, dan permainan mematikan yang lebih kompleks—dan pastinya, jauh lebih berdarah.

Ready or Not: Here I Come
2026
3.5/5
Directed by Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Producer

Tripp Vinson, James Vanderbilt, Bradley J. Fischer, William Sherak

Writer

Guy Busick, R. Christopher Murphy

Age Rating

D 17+

Genre

Kengerian, Komedi

Duration

108 Minutes

Release Date

19-03-2026

Theme

escape, ritual, dark comedy, satanism, gore, pact with the devil, sequel, game, exploding body, satanic ritual, satanic cult, estranged sister, sister sister relationship, playful, satanic, sisters, death game, horror, amused

Production House

Searchlight Pictures, Radio Silence, Vinson Films, Mythology Entertainment, TSG Entertainment

Where to Watch

Disney+

Cast

Samara Weaving, Kathryn Newton, Elijah Wood, Sarah Michelle Gellar, Shawn Hatosy

Trailer 'Ready or Not 2: Here I Come' (2026)

'Ready or Not 2: Here I Come' (2026)

Review 'Ready or Not 2: Here I Come' (2026)

RoN2 5.jpg
Ready or Not 2: Here I Come (Dok. IMDB)

Premis Familiar, Tapi Tetap Menarik

Menurut penulis, Ready or Not 2 punya premis yang sebenarnya tidak buruk.

Namun saat ditonton, terasa cukup repetitif karena kembali mengusung konsep permainan petak umpet yang menjadi inti cerita. Grace lagi-lagi harus bertahan hidup hingga fajar untuk memenangkan permainan mematikan tersebut.

Kali ini, ia tidak sepenuhnya sendirian. Kehadiran Faith yang diperankan oleh Kathryn Newton sebagai adiknya yang datang karena menjadi kontak darurat, sedikit memberi warna baru dalam dinamika cerita.

Meski begitu, secara garis besar, pola cerita masih terasa mirip dengan film pertama.

Action Brutal, Tapi Kurang Variatif

Dari sisi action, film ini masih terbilang cukup solid dan tetap menghadirkan tensi yang intens.

Namun, penulis merasa beberapa adegan pertarungan terlihat repetitif, bahkan terasa seperti mengulang pola yang sama dari film sebelumnya.

Yang cukup menonjol justru ada pada konsep kematian karakter yang dikemas dengan cukup menarik.

Sayangnya, di luar itu, aksi brutal yang ditampilkan terasa agak kasar dan dalam beberapa momen terkesan terburu-buru, sehingga tidak semuanya meninggalkan impact yang kuat.

Vibes yang Tidak Banyak Berubah

Selama menonton, penulis tetap bisa menikmati film ini. Namun, harus diakui bahwa vibes yang dihadirkan tidak terlalu berbeda dari film pertama.

Nuansa permainan mematikan dengan keluarga eksentrik masih terasa sama, tanpa banyak eksplorasi baru yang signifikan.

Hal ini mungkin jadi kekurangan bagi penonton yang mengharapkan inovasi lebih dari sebuah sekuel.

Meski begitu, bagi yang memang menyukai formula dari film pertama, pendekatan ini masih cukup enjoyable.

Visual dan Sinematografi Layak Diapresiasi

Salah satu aspek yang patut diapresiasi adalah pengambilan gambar. Sinematografi di film ini tergolong rapi dan mampu memaksimalkan venue yang digunakan sebagai lokasi permainan.

Shot-shot yang ditampilkan terasa cukup sinematik dan membantu membangun suasana tegang sepanjang film. Ini jadi nilai tambah yang membuat pengalaman menonton tetap terasa menarik meskipun ceritanya cenderung familiar.

Ending yang Memuaskan dan Penuh Pesan

Bagian paling menonjol menurut penulis ada di ending. Penutup film ini terasa memuaskan dan sesuai dengan ekspektasi yang dibangun sejak awal.

Selain itu, pesan yang ingin disampaikan juga cukup terasa, terutama mengenai bagaimana kekuasaan bisa membutakan seseorang. Tema ini tergambar cukup jelas, khususnya di bagian akhir cerita yang memberikan penegasan terhadap konflik yang terjadi.

Overall, Ready or Not 2: Here I Come adalah sekuel yang masih menghibur, meski belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang film pertamanya. Premis yang repetitif dan action yang kurang variatif jadi catatan utama, tapi tetap tertolong oleh akting solid, visual yang apik, serta ending yang memuaskan.

Buat kamu yang menyukai film pertama, sekuel ini masih layak ditonton. Tapi kalau kamu berharap sesuatu yang benar-benar baru dan berbeda, mungkin Ready or Not 2 belum sepenuhnya menjawab ekspektasi tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Jaelani
Valya Annisya
Doni Jaelani
EditorDoni Jaelani
Follow Us

Latest in Entertainment

See More