Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Kenapa Sentenced to Be a Hero Jadi Anime Terbaik di Awal 2026

sentenced to be hero.jpg
Sentenced To Be Hero (crunchyroll.com)
Intinya sih...
  • Premis Kepahlawanan yang Dibalik Total
  • Worldbuilding Ditunjukkan Lewat Konsekuensi
  • Relasi Manusia–Dewa yang Dingin dan Tidak Romantis
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal 2026 langsung dibuka dengan banjir anime baru dan lanjutan.

Tapi di tengah hiruk-pikuk sekuel besar dan judul aman, Sentenced to Be a Hero muncul mencuri perhatian dengan banyak ulasan positif.

Berikut lima alasan kenapa anime ini layak disebut sebagai salah satu yang paling kuat dan paling menarik di awal 2026.

1. Premis Kepahlawanan yang Dibalik Total

sentenced to be hero 1.png
Sentenced To Be Hero (crunchyroll.com)

Di dunia Sentenced to Be a Hero, menjadi pahlawan bukan anugerah, melainkan hukuman negara.

Para Hero adalah kriminal yang dipaksa bertarung di garis depan. Mati bukan akhir, mereka akan dibangkitkan dan dilempar kembali ke medan perang. Tidak ada kemuliaan, tidak ada kehormatan, hanya kepatuhan.

Pendekatan ini langsung membedakan anime ini dari fantasi gelap kebanyakan.

Kepahlawanan di sini bukan soal moral, tapi alat politik. Heroisme diperas sampai tinggal kerangkanya.

2. Worldbuilding Ditunjukkan Lewat Konsekuensi

sentenced to be hero 2.png
Sentenced To Be Hero (crunchyroll.com)

Alih-alih membeberkan lore lewat dialog panjang, anime ini membangun dunianya lewat apa yang terjadi pada karakter.

Sumber daya yang menipis, pasukan yang habis, kebencian sosial terhadap para Hero, semuanya terasa organik karena diperlihatkan lewat keputusan dan akibatnya.

Bahkan mekanisme kebangkitan pun punya harga mahal. Setiap kali dihidupkan kembali, seorang Hero kehilangan sebagian dari dirinya.

Ingatan, identitas, kemanusiaan. Ini membuat kematian tetap menakutkan, meski tidak final.

3. Relasi Manusia–Dewa yang Dingin dan Tidak Romantis

sentenced to be hero 3.png
Sentenced To Be Hero (crunchyroll.com)

Kehadiran Dewi Teoritta menolak klise lama. Ia bukan “waifu”, bukan pelindung penuh kasih, dan bukan simbol harapan.

Hubungannya dengan Xylo bersifat transaksional, kekuatan ditukar dengan pujian dan kepatuhan.

Lebih menarik lagi, para Dewi digambarkan sebagai senjata buatan manusia, bukan makhluk maha sempurna.

Mereka bisa lelah, bisa rusak, bahkan bisa dikendalikan musuh. Anime ini terang-terangan skeptis terhadap konsep ketuhanan dan budaya pemujaannya.

4. Protagonis yang Dibentuk oleh Pengkhianatan

sentenced to be hero 4.jpg
Sentenced To Be Hero (crunchyroll.com)

Xylo bukan pahlawan yang marah pada dunia karena nasib buruk. Ia adalah mantan ksatria yang dijatuhkan secara sistematis, dijebak, lalu dikubur hidup-hidup lewat status Hero.

Kebenciannya pada para Dewi dan sistem bukan emosi meledak-ledak, melainkan rasa muak yang dingin.

Latar belakangnya, termasuk hubungannya dengan Dewi Senerva, memberi lapisan politik dan misteri jangka panjang.

Ini bukan cerita balas dendam sederhana, tapi tentang bagaimana kebenaran bisa disenyapkan oleh sistem yang rapi.

5. Produksi Rasa Film dengan Identitas Visual Kuat

sentenced to be hero 5.jpg
Sentenced To Be Hero (crunchyroll.com)

Diproduksi oleh Studio Kai, episode perdananya terasa seperti film layar lebar.

Pergerakan kamera dinamis, koreografi pertarungan rapi, ledakan penuh warna, dan darah yang tidak disensor.

Fantasi gelapnya benar-benar gelap, tanpa takut terlihat tidak nyaman.

Ditambah desain karakter Xylo yang jarang ditemui di genre ini, Sentenced to Be a Hero terasa segar secara visual sekaligus berani secara representasi.

Share
Topics
Editorial Team
Doni Jaelani
EditorDoni Jaelani
Follow Us

Latest in Entertainment

See More

Semua Pertanyaan yang Akhirnya Terjawab di Stranger Things Season 5

06 Jan 2026, 20:00 WIBEntertainment